Selasa, 24 Maret 2009

TRAGEDI BANGKU DI MALANG, APA GUNA PARA PEMIMPIN?

SUNGGUH menyesakkan dada mengikuti berita tragedi mebel sekolah yang berlanjut dari Kabupaten Malang. Setelah dua pekan hampir berlalu, solusi tetap belum ada. Bagaimana kasus ini diselesaikan juga belum tergambar. Para pejabat kabupaten yang seharusnya sigap menyelesaikan kasus tersebut, dengan mengadakan bangku secepat-cepatnya, ternyata malah seperti menyembunyikan kepala ke dalam pasir.

Yang makin menyedihkan, kabarnya hari ini akan ada lagi bangku yang ditarik oleh perajin dari SD di Bululawang. Mudah-mudahan tidak jadi. Para perajin tak bisa disalahkan dalam hal ini. Mereka sudah bersabar tiga tahun menunggu pembayaran, sejak 2006. Sikap mereka itu tampaknya lebih sebagai protes. Sebab, toh setelah dipakai tiga tahun gratisan, tentu nilai meja dan kursi itu sudah menyusut.

Kasus di Kabupaten Malang yang kini dipimpin Bupati Sujud Pribadi dan Wakil Bupati Rendra Kresna itu bisa disebut contoh kegagalan fungsi manajemen pemerintahan. Pemerintah bukannya tak punya uang, tapi tak ''tahu'' cara memakainya. Uang Rp 2,9 miliar yang diplot untuk belanja meja dan kursi itu, rupanya, tak bisa dibelanjakan dengan benar. Uang sebesar itu seharusnya untuk pengadaan 7.925 pasang meja dan kursi siswa. Alokasinya, 33 rekanan dan masing-masing delapan sekolah. Karena tak sesuai spesifikasi, barang yang telanjur dipesan tak bisa dibayar. Sebab, kalau dibayar, bisa jadi kasus korupsi (Jati Diri, Jawa Pos, 18 Maret).

Kalau uang itu tak terpakai, berarti bangku untuk siswa ''belum ada''. Kalaupun sekolah kemudian dikirimi bangku oleh perajin atas pesanan rekanan, itu berarti statusnya ''salah kirim''. Pemkab menilai bangku-bangku itu tak sesuai spesifikasi dan tak mau membayarnya. Sangat mengherankan, ketika pemkab tenang-tenang saja para siswa duduk dan belajar di bangku-bangku bermasalah. Selama tiga tahun!

Tragedi mebel sekolah dari Malang itu sudah telanjur terjadi dan bisa terus berlanjut. Tapi, setelah terlambat merespons tiga tahun, Pemkab Malang tak segera menebus kegagalannya ini. Sampai kemarin belum ada respons yang mencerminkan rasa tanggung jawab pejabat pemerintah. Bupati Sujud Pribadi belum juga memberikan penegasan. Malah, menurut Humas, dia sempat ikut kampanye Megawati di Jember. Bupati Sujud masih business as usual, setelah kasus yang mulai terjadi 11 Maret itu hampir melewati pekan kedua.

Sikap Wakil Bupati Rendra Kresna tak kalah aneh. Dia malah mengharapkan ''caleg-caleg yang cerdas'' yang memanfaatkan momentum kasus mebel sekolah itu. Apakah sikap ini mencerminkan rasa tanggung jawab? Apakah ini bukan upaya melupakan orang bahwa kasus penarikan mebel itu tanggung jawab pemkab, bukan tanggung jawab orang lain, apalagi caleg? Apakah ini bukan mengarah ke pelanggaran aturan pemilu yang melarang kampanye di sekolah?

Entah sampai kapan kita menunggu sikap jelas para pejabat pemkab yang sudah diberi kekuasaan oleh rakyat untuk mengatur urusan mereka. Apakah perlu Gubernur Jawa Timur Sukarwo dan Wakil Gubernur Saifullah Yusuf turun tangan atas ketidakmampuan para pejabat di Kabupaten Malang ini? (*)

sumber: Palmturi

Senin, 09 Maret 2009

A PRETTY LOW-LAND COUNTRY CALLED “THE NEDERLANDS”




Ini adalah kiriman dari Lettu Kes Dr Indria Sari, yunior dan teman dekatku yang sekarang sedang kuliah S-2 dalam bidang HIV/Aids di Amsterdam. Dia ini perwira sekaligus dokter muda yang sangat cerdas dan cemerlang otaknya, bakat nulisnya juga luar biasa, bahasa Inggrisnya cas cis cus (ngobrol or sms konsisten ber-Inggris-ria, diajak bahasa jawa ya tetap jawab pake bahasa Inggris). Ia bisa kuliah S-2 Belanda berkat beasiswa yang ia cari dan dapatkan sendiri di internet. Sebenarnya sesuai aturan, karena pangkatnya baru Lettu, dia tidak diperbolehkan mengambil S-2 di luar negeri. Tapi berkat dukungan bosnya (Kadiskesau), maka Indria memperoleh ijin meraih impiannya itu. Saya berharap kelak dia akan jadi Kadiskes AU pertama dari Wara!!! Feature ini sebenarnya dikirim untuk majalah UDARA News (Koopsau I), namun saya ingin menampilkannya di blog ini pula sebagai rasa kekaguman dan bangga kepadanya. Selamat menikmati.***

The 17th century is known as the golden age of the Netherlands, due to colonial era. Thousands of VOC (Verenigde Oostindische Compagnie = The Dutch East India Company) ships left the Dutch to search goods and trade in many Asian and African countries, made a huge amount of money. Batavia, now we call it Jakarta, was one of VOC destination. These ships started the journey from Amsterdam port. At that moment, Amsterdam was the trade capital of the world. It was crowded with the big ships along the coast, and became the richest city in Europe. During this period, beautiful houses were built along the canal, gave a remarkable view of Amsterdam. We can imagine the glorious days of the Dutch in golden age by seeing the houses and many luxurious buildings that stand still.

The Netherlands means the low country, which more than a quarter of its area are below sea level. Even the Schippol airport – the international airport in Amsterdam lies 4.5 metre below sea level!! And it is completely dry. For centuries the Dutch has eternal fight against the water, to keep their existence. An ongoing process. For this reason, the world acknowledges that the Dutch has the best water management. One famous sentence proudly said by the Dutch, “God created the world, but the Dutch created the Netherlands”.


AMSTERDAM

Where can we find the largest canal system in the world? Amsterdam is the answer. The city has more than one hundred canals, totalling more than one hundred kilometres in length. In the summer, hundred thousands of tourists are fond of having the city tour by boat. Bikes are also popular, not only in Amsterdam, but also in most part of the Netherlands. With total population of 16 million residents, the Dutch has over 20 million bikes. A paradise for bikers. There are special pathways for bikes, separated from motor vehicles path. Unfortunately there is no guarantee for safety, we have to ride our bikes extra carefully, since the Dutch people ride the bikes so fast!! Public transportation is easy to be accessed, such as tram, metro, bus, and train.

Amsterdam is the real metropolis city. It has the biggest population in the country, a home of 750 thousands people from 175 nationalities (!!). People live in freedom and tolerance. Here, everyone is equal, regardless of ethnic background, education, occupation, or religion. It creates the comfort zone, even for the newcomers.

For sure, canals are wonderful attraction. But Amsterdam is not only known for its canals. Museums and historical buildings are spreaded in this city. The Netherlands has more than 500 museums, which around 42 of them are located in Amsterdam. Rijksmuseum (National Museum), Van Gogh Museum, and the Anne Frank house are listed in the most visited museum in Amsterdam. The Red Light District is a must visit place, which most of tourist have heard about this famous district.

Let’s also visit Bloemenmarkt (Flower Market), Madame Tussaud, Dam Square, and Amsterdam Arena. On Dam Square, where hundreds pigeons play freely, we can find the Royal Palace; the National Monument in memory of those who died in World War II; and the church that was built in 15th century – ‘Nieuwe Kerk’, where the wedding of Prince Willem-Alexander and Princess Maxima took place.

The most popular sport in the Netherlands is football. For football lovers, they will not miss the opportunity to visit the Amsterdam Arena. Who never heard about Ajax Amsterdam? A well known football team that plays the “total football” concept. The Dutch football supporters, in their orange dresses will turn the stadium into orange sea and support the Dutch team faithfully.

When having a visit in the Netherlands, try the taste of traditional cuisines, such as poffertjes (tiny pancakes), oliebollen and herring (a type of fish living in North Atlantic ocean). The Dutch enjoy raw herring with small slices of garlic. Oliebollen is doughnut-type balls deep fried and sprinkled with powdered sugar. We can find banana, chocolate, cherry, apple, and many kind of fruits as its filling. Lekker!! (lekker, in Dutch, means delicious). The popular winter dish is thick pea soup with sliced sausage, or chicken in small pieces, or chopped meat.

In the winter, the temperature can fall until 6 degree celcius below zero point. At that moment, the river will be frozen, and become natural ice-skating areas for children, as well as for the adults. Skating is the national sport in the Netherlands. When the ice takes over from the water, none can stop the skaters from action.

ROTTERDAM

It is the most modern city in the Netherlands, and home to the Netherlands Architecture Institute. It has the largest seaport in Europe; the second largest port in the world, after Shanghai. While Amsterdam has the highest density of population in the Netherlands, Rotterdam is the second, with 600 thousands inhabitants. The outstanding structure –Erasmus bridge - a famous 808-metre long bridge, lies in this city.

THE HAQUE (DEN HAAG)
This is the city where Indonesian embassy is located. In the Netherlands we have a prestige embassy building, compared with other countries’ embassy buildings.

The Haque, the third biggest city in the Netherlands, is the centre of government. Here we also find the Peace Palace, the seat of the International Court of Justice. This palace was the result of collaboration between the French architect and the Dutch professor. Houses of the Netherlands parliament and government offices stand in a beautiful-cosy block which we call “Binnenhof and the Knight’s Hall”.

Museums also attract a lot of tourist to visit The Haque. Madurodam offers a very interesting Netherlands in miniature. The replica of various historical buildings in the Netherlands were built for years to get the perfect shape.

When we are in the Netherlands, we realise how big our country is, how rich Indonesia is. The Netherlands is not even a half-size of Java island. The furthest distance from east to west is around 200 km, and from north to south is around 300 km. It has no natural resources. Their technology and international-minded have brought this country into developed stage. Indonesia has plenty of natural resources and millions of intellectual human resources. In the following years, we should be able to build our country, improve the quality of the new generation, thus bring prosperity to our people.

The Netherlands :
Currency : Euro
1 euro = Rp 15.000,-
Language : Dutch
Average living cost for international students in Amsterdam : 700 euro/month

Written by :
dr. INDRIA SARI
1st Lieutenant / 533181
SOEMITRO Hospital
Surabaya Air Force Base
Study in KIT (Koninklijk Instituut voor de Tropen)
Amsterdam,The Netherlands

Kamis, 29 Januari 2009

PESONA GADIS PALESTINA


Tanah Palestina yang kini dilanda duka akibat kebiadaban zionis Israel, sesungguhnya menyimpan sejuta pesona, diantaranya gadis-gadis dan wanitanya yang sungguh cantik jelita tiada tara…

Habiburrahman El Shirazzy atau Kang Ibik, penulis novel best seller Ayat-ayat Cinta, juga terinspirasi oleh keelokan wanita Palestina dalam sebagian isi novelnya… Juga saya, dulu ketika masih remaja sekitar SMA pernah punya cita-cita kelak akan memperisteri gadis Palestina. Cita-cita itu tak terwujud, tentu saja, karena tidak ada akses yang menghubungkan saya dengan Negeri Palestina.

Lucunya, sekarang sepertinya cita-cita itu ingin saya ”dorong” ke dua anak cowok saya yang mulai menginjak remaja. Saya katakan pada mereka, kalau bisa punya isteri gadis Palestina Le, kataku pada mereka. Padahal soal jodoh ”hare gene” kok ortu maksa ke anak sih? Iya, itu hanya cetusan hati yang membuncah karena kekaguman terhadap gadis dan wanita Palestina...

Palestina, kini kian menderita, setelah Gaza luluh lantak diterjang mesin perang zionis Israel biadab. Ironisnya, diantara mereka sendiri juga masih menyimpan bara perseturuan antar kelompok, terutama Hamas dan Fatah. Itu bukan monopoli mereka, bahkan sepertinya merata pada semua bangsa di Jazirah Arabiya. Sejak nenek moyang mereka, terbiasa konflik antar bani, antar kabilah. Jika demikian, sampai kapan mereka bisa kompak dan kemudian bersatu-padu melawan Israel?***(M Agus Suhadi)

Kamis, 22 Januari 2009

CINTAILAH BUKU, SAYANG...


Buku adalah alat perekam berbagai segi warisan budaya di suatu kawasan. Di berbagai wilayah di bumi ini jauh semenjak zaman lampau, sudah hidup tradisi menulis “buku” yang menggunakan kertas, tinta dan aksara yang berbeda. Oleh karena peran penting yang dimainkan buku, orang mencoba melakukan studi khusus terhadapnya. Apabila kita dapat mengetahui berbagai hal seputar tradisi perbukuan di suatu kawasan pada suatu masa, kita akan dapat pula merekonstruksi realitas sejarah masyarakat bersangkutan.

Buku, kecuali merupakan wahana untuk menampilkan, memelihara dan mengembangkan warisan perdaban juga merupakan alat ampuh bagi penyebaran budi daya manusia kepada masyarakat luas. Buku telah membuktikan diri sebagai salah satu contoh media komunikasi yang paling efektif dan merupakan persyaratan yang dibutuhkan bagi perkembangan suatu masyarakat modern pada masa yang akan datang. Oleh karena itu telah dilakukan berbagai upaya untuk menyimpan dan sekaligus memencarkan memori manusia dalam berbagai bentuk atau media sejalan dengan perkembangan iptek.

JADI, cintailah buku sayangku....

Selasa, 20 Januari 2009

EFEK BURUK BLACKBERRY

Meski disukai Presiden AS yang baru Barack Obama, belakangan diketahui bahwa BlackBerry ternyata memberi efek buruk bagi pemakainya. Berikut adalah akibat-akibatnya:

1. Rela disuruh antri, semakin panjang semakin tenang, gak menunjukkan gejala kekesalan sama sekali.

2. Yang tadinya ngedumel saat macet, sekarang tenaaaaang.

3. Berharap kena lampu merah berulang-ulang. Kalo lampu berubah jadi ijo malah kesel. Tetep nekad jawabin email/chatting.

4. Sering diklaksonin orang lain, sampe disaranin pasang stiker di belakang mobil "harap sabar, BlackBerry user".

5. Waktu BAB jadi tambah lama. Padahal isinya udah kosong tapi tetep aja nongkrong.

6. Tidur miring nungguin pasangan sambil BB di tangan. Kejar target ngabisin baca email.

7. Suka senyum-senyum sendiri.

8. Gak konsen kerja.

9. Bangun pagi yang pertama dicari BB dulu bukan yang lain.

10. Waktu diajak ngobrol orang tetep maksa jawab email/chatting. Cuek. Padahal yang ngajak ngobrol itu kadang bossnya sendiri.

11. Lebih senang disupirin daripada nyetir sendiri. Rela naik busway biar gak usah nyetir.

12. Jadi jarang marah tapi jadi sering dimarahin orang karena diajak ngobrol gak nyambung.

13. Kalo di tempat umum suka panik nyari stop kontak. Batere sekarat.

14. Kalo anaknya rewel langsung nunjukkin BB nya buat menghibur.

15. Sering lupa mencet tombol lift. Harusnya naik malah turun. Belum lagi kebablasan lantainya.

16. Kalo ngantri di bank pake nomor antrian, pas dipanggil di speaker gak denger. Pas kepala liat monitor kaget. Waks! Harus ambil antrian ulang. Tapi tetep tenaaaaang.

17. Langganan koran dan majalah masih tertumpuk rapi tak terbaca.

18. Sering kejedug karena kalo jalan mata tertuju ke layar BB.

19. Bikin tangan ga pernah kosong. Walaupun ga chatting, tetep aja BB di tangan! Ga bisa taro di kantong, tas.. uda settingannya gitu. BB kejait di tangan.

Dari: milis Palmturi

Kamis, 08 Januari 2009

Life is So Precious, Baby!

banyak orang yang biasa berlagak tangguh
baik pria maupun perempuan
merasa bisa hidup sendiri tanpa perlu orang lain
kalau dia memerlukan pihak lain, semua orang harus memenuhi kehendaknya
tidak paham bahwa orang lain pun punya urusan sendiri

ada juga yang merasa gundah karena sebentar lagi pensiun
tapi tak punya apa-apa
dan tak tahu harus berbuat apa
padahal merasa dirinya sudah sangat berpengalaman dan hebat sekali
lalu terlambat menyadari bahwa orang-orang menghargainya karena ia masih punya posisi
bukan karena ia punya kemampuan

ada juga yang hidup dalam kepura-puraan
punya banyak keinginan tapi enggan dituding meminta
menjadi marah-marah jika kemauannya tidak tercapai
atau menuding orang lain pelit banget

kalau dia wartawan, maka tulisannya campuran fiksi dengan ilusi dan fakta
kalau dia peneliti, maka laporannya lebih banyak analisis yang berbasis asumsi
kalau dia pejabat, maka ia tak bisa bedakan antara urusan dinas dengan urusan pribadi
kalau dia pensiun, maka ia tetap merasa punya kekuasaan dan jaringan

orang yang kayak gitu patut dikasihani
karena bisa bunuh diri
walau pangkat atau posisinya di kantor sudah hebat
bukan mustahil ia meloncaaaaat. ........

(milis palmturi)

Senin, 05 Januari 2009

PESONA BALI





Rasanya tak ada habis-habisnya cerita tentang keelokan dan pesona Bali. Itulah yang saya dan teman-teman Patun Sekkau beserta keluarga rasakan tatkala menikmati liburan di pulau dewata itu akhir tahun lalu. Tepatnya tanggal 19-21 Desember 2008. Ini liburan special karena merupakan “perintah” dan sekaligus “kebaikan hati” Kasau Marsekal Subandriyo.

Dibilang perintah karena untuk berlibur pun tentara memerlukan perintah, karena filosofinya untuk hal apapun harus ”bergerak atas perintah”. Lalu soal ”kebaikan hati”, ya jelas, karena perintahnya menyenangkan, atau membuat hati pihak yang diperintah menjadi senang. Jarang-jarang lho yang seperti itu. Biasanya perintah atasan ”menjengkelkan”, tapi karena Sapta Marga ya harus dilaksanakan.

Kembali ke pesona Bali. Pertama-tama kami mengunjungi monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK). Meski belum beres pengerjaannya, patung raksasa kreasi pematung top Bali Nyoman Nuarte ini sunggung elok dan menakjubkan. Lalu kami menuju Pantai Kuta. Tak terlalu istimewa memang, selain karena pemandangan turis ”udo” tetap tersaji dengan gamblangnya, juga karena pembangunan aneka bangunan yang semakin menambah semrawutnya suasana. Untungnya, pesona sunset masih cukup menggoda untuk tetap bertahan di pantai ini. Malamnya free program.

Keesokan harinya dilanjutkan dengan mengunjungi Istana Tampaksiring, sebuah karya elok hasil ide dan kreasi Bung Karno sang presiden pertama Republik ini. Meski hanya menikmati halaman luar dan taman-tamannya yang elok, kami cukup puas meski diguyur gerimis yang nakal membasahi diri.

Lalu perjalananan dilanjutkan ke ke Pasar Sukowati. Ini pasar seni untuk menguji kepandaian kita menawar harga barang yang dijual. Ternyata nawar separo dari harga yang ditawarkan penjual (sebagaimana lazimnya) termasuk langkah yang tak elok, yang benar tawarlah harga di sana di bawah sepertiga harga yang ditawarkan! Ga usah malu daripada nyesel setelah itu.

Dan gong pamungkas mengunjungi tujuan wisata ”wajib”: Tanah Lot. Sayang sore itu air laut sedang pasang, sehingga tak bisa menaiki pulau karang tempat Pura Kuno Tanah Lot berdiri dengan agungnya. Tak bisa dipungkiri, setuju atau tidak, suka atau tidak, Bali memang identik dengan pariwisata sebagai industri, termasuk budayanya. Maka, jangan kaget jika ada seekor ular kecil yang diberi nama ”ULAR SUCI” sehingga untuk melihatnya pun kita harus merogoh kocek – meski tak mahal – seribu perak. Setelah melongok, walah, ya Cuma ular kecil belang-belang mlungker di ceruk bebatuan seperti goa di pinggir pantai Tanah Lot. Malamnya kami dinner di Pantai Jimbaran. Very delicious, of course, but so expensive!

Yang pasti, tujuan perintah Kasau tercapai: berlibur, atau nama kerennya ”REKREASI” benar-benar membuat badan fresh dan kelak kembali ke kantor bisa berkreasi lagi (re-creation).***